Bedah Buku

PERKEMBANGAN ISLAMDI KESULTANAN SAMBASbeadah buku

Bedah buku: Perkembangan Islam di Kesultanan Sambas: Kajian Atas Lembaga Keislaman Pada Masa Pemerintahan Sultan Muhammad Syafiuddin II Tahun 1866-1922

Penulis: Risa

Penerbit : Ombak

Tahun terbit: 2016

Buku ini merupakan hasil Tesis S2 Penulis ketika menyelesaikan studipada UIN SunanKalijaga Yogyakarta. pada tahun 2015 mendapat dana bantuan penerbitan Tesis dan Disertasi dari Kementrian Agama RI.

Buku ini terdiri atas tiga bagian pokok pembahasan, bagian pertama membahas tentang Kesultanan Sambas dan Islamisasi antara awal abad ke-XVII sampai pertengahan abad ke-IX, bahasannya dimulai dari asal-usul kesultanan Sambas hingga corak perkembangan Islam sebelum masa pemerintahan Sultan Muhammad Syafiuddin II. Bagian kedua, membahas masa pemerintahan Sultan Muhammad Syafiuddin II (1866-1922), bahasannya berangkat dari konteks kesultanan Sambas pada pertengahan abad ke-XIX hingga awal abad ke-XX yang meliputi dominasi kekuasaan kolonial atas kesultanan Sambas, Biografi sultan hingga kondisi politik, sosial, sosial keagamaan dan ekonomi.

Sementara bagian akhir pembahasannya terfokus pada lembaga-lembaga keislaman di Kesultanan Sambas.  Perkembangan lembaga keislaman seperti lembaga pendidikan Islam dan lembaga keagamaan pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Syafiuddin II terjadi secara evolusi dan dipengaruhi oleh multi faktor.

Lembaga pendidikan Islam berkembang dari lembaga pendidikan surau (1866-1916 M) ke bentuk sekolah Melayu al-Sulthaniyah (1868-1916 M) kemudian berkembang menjadi Madrasah al-Sulthaniyah (1916-1936 M). Sedangkan  lembaga keagamaan berkembang dari masa kepemimpinan Muhammad Arif (1869-1873 M) yang secara umum belum dilengkapi dengan struktur yang rapi dan pembagian peran belum spesifik, kemudian masa kepemimpinan Maharaja Imam Muhammad Imran (1873-1913 M) mulai terstruktur namun peran kelembagaan masih terpusat di kota, selanjutnya masa Maharaja Imam Muhammad Basiuni Imran  (1913-1976 M) yang sudah terstruktur dan terorganisasi denga baik serta pelaksanaan peran meluas sampai ke desa-desa.

Ada beberapa faktor pendorong perkembangan lembaga pendidikan Islam dan lembaga keagamaan baik itu yang bersifat internal maupun eksternal. Faktor internal yang mendorong perkembangan tersebut antara lain: kondisi ril lembaga pendidikan Islam, kepemimpinan dan keilmuan sultan serta semangat pembaharuan yang dipelopori ulama. Kemudian faktor eksternal yang mendorong perkembangan tersebut antara lain: perekonomian kesultanan yang membaik, pengaruh politik kolonial, pengaruh Timur Tengah dan pembaharuan Islam. Sedangkan pengaruh perkembangan kedua lembaga tersebut ialah munculnya lembaga pendidikan Islam lainnya, perkembangan kurikulum pendidikan, munculnya golongan baru dan mendorong semangat nasionalisme.

 

 Tanggapan-tanggapan:

 

SYAFARUDDIN USMAN MHD

(Sejarawan Kalbar)

Syafuddin (Bang Din) mengapresiasi karya Risa sebagai karya Ilmiah yang patut diacungi jempol, sebagai karya penting dalam menulis sejarang mengenai Sambas berikutnya. terdapat beberapa catatan penting yang harus diperhatikan oleh penulis, yaitu:

  1.  Dalam membahas asal-usul kesultan Sambas, Penulis masih belummengungkap kondisi dan posisi Sambas dimasa penguasaan Majapahit. masa ini merupakan masa yang sangat penting, menjadi cikal bakal pendidikan Islam kemudian yang ada di Sambas.
  2. Sultan Muhammad Syafiuddin II atau Datok Tue adalah Bapak Pendidikan untuk wilayah Kesultan Sambas, perhatiannya terhadap dunia pendidikan Sambas masa itu sangat luar biasa, sehingga para penulis kolonial Belanda termasuk P.J. Veth menggambarkan kehidupan sosial keagamaan di Sambas sangat lekat dengan agama Islam yang di perhatikan oleh Sultan.
  3. Pembahasan mengenai Maharaja Imam belum detail, sehingga belum menjawab persoalan mengapa hanya di kesultanan Sambas yang menggunakan gelar Maharaja Imam untuk Mufti atau pemimpin ulamanya, gelar seperti ini tidak akan kita temukan di kerajaan yang ada di sepanjang Borneo Barat, bahkan di Nusantara.

 

HENNY YUSNITA

(Sejarawan IAIS Sambas)

Sementara Sejarawan IAIS Sambas, Henny Yusnita, sekaligus Dosen F. Dakwah memandang bahwa karya Risa merupakan karya historiografi yang sangat penting, tidak hanya sebagai karya awal mengenai sejarah sambas berdasarkan kaidah penelitian sejarah dengan pendekatan yang tepat, buku ini juga sangat berguna dalam melihat sejarah Indonesia secara keseluruhan. sehinnga buku ini sangat tepat untuk dijadikan rujukan bagi mahasiswa, dosen, peneliti maupun pihak-pihak lain yang meminati kajian sejarah.

sebagai karya ilmiah yang berupaya mengangkat sejarah Sambas terutama dalam kurun waktu antara pertengahan abad ke-XIX hingga awal abad ke-XX, karya ini masih sangat perlu data-data primer secara spesifik dalam kurun tersebut. masa-masa tersebut merupakan periode yang memiliki dinamika luar biasa dalam sejarah Sambas, dominasi Kolonial pasca penumpasan gerakan Kongsi Dagang yang melakukan pemberontakan semakin inten terlihat, disamping secara general kekuatan Kolonial di Batavia dan Pulau Jawa sangat terasa, kebijakan-kebijkan yang berupa untuk memperkuat dominasinya.

Lembaga keislaman yang hadir dalam kurun tersebut sebagai fokus kajian ini, justru minim penjelasan dan penafsiran, yaitu pada realitas peralihan jabatan Maharaja Imam dari Muhammad Arif (1869-1873 M), Muhammad Imran (1873-1913 M) hingga Muhammad Basiuni Imran  (1913-1976 M), kedudukan mereka adalah, Kakek, Ayah dan Anak. bagaimana ini bisa terjadi, kesan yang muncul adalah jabatan Maharaja Imam sebagai  jabatan keluarga. dalam studi ini sistem keulamaan dan kepemimpinan tradisional sangat penting untuk dijelaskan, mulai dari proses terbentuknya hingga konteks Maharaja Imam itu sendiri.

Islamisasi yang dibahas dalam bagian pertama buku ini, merupakan pelengkap saja. akan sangat baik jika dibahas secara terpisah (buku yang berbeda), sehingga bahassannya dapat fokus pada perkembangan Lembaga Islam yang ada di kesultanan Sambas.

 

H. SUBHAN M. NUR

(Ketua MABM Kab. Sambas)

Sejarah Sambas, jika dispesifikasi berdasarkan fase dan kurun waktu maka dapat kita bagi dalam empat fase besar, yaitu; pertama, fase awal (dari masa Raden Sulaiman merupakan awal perkembangan Islam), kedua, fase Kejayaan, ketiga, fase kemunduran, fase keempat, masa kebangkitan kembali Islam di Sambas, yaitu masa generasi sekarang.

Mengenai pembahasan sejarah Sambas, jika kita renungkan kembali apa yang berkembang di tengah masyarak kita, maka sangat banyak bagian-bagian yang digelapkan bahkan disimpangkan. Contoh nyata adalah kata ‘SAMBAS’ yang dihubungkan dengan bahasa Cina Khek (Sam yang berarti tiga), padahal sebagaimana diawal penjelasan penulis buku tadi bahwa Sambas sudah ada dan dikenal  sejak abad ke-13 sebelum orang-orang Cina berinteraksi dengan orang-orang Sambas. Penyimpangan seperti ini mungkin saja akibat kurangnya pengkajian dan penelitian yang kita lakukan. Sangat tepat apa yang di lakukan oleh IAIS Sambas dalam berupaya menggali dan meneliti terus menerus bagaimana Islam di negeri ini berkembang, baik dari masyarakatnya (Melayu), sejarah kesultanan Sambas maupun perkembangan Islam itu sendiri. Maka dari itu, MABM Kabupaten Sambas, sangat mendukung dan mensuport kajian-kajian dan penelitian yang akan dilakukan.

 

Ir. H. BURHANUDDIN A. RASYID

(Bupati Sambas, Periode 2001-2006; 2006-2011 ddan Ketua Dewan Penasehat MABM Kab. Sambas)

MABM dan IAIS Sambas sudah melakukan kerjasama, sehingga terbentuk Pusat Pengkajian Melayu sejak tahun 2012. Disadari dalam kerjasama tersebut kita masih menemukan banyak tantangan, diantaranya adalah persoalan finansial, sehingga kerja sama yang kita bangun, masih jalan di tempat. fokus kajian Melayu tersebut tentu melihat berbagai aspek yang ada dalam masyarakat Melayu Sambas, agama, sosial masyarakat, pemerintahan baik masa kesultanan, hingga masa sekarang. dalam rentang waktu yang sangat panjang, semenjang Kesultanan Sambas berdiri hingga saat ini, banyak tokoh-tokoh sentral yang mengantarkan Sambas hingga dikenal dunia, Ahmad Khatib Sambas dan Basiuni Imran sebagai contoh. Karya-karya mereka sangat luar biasa, menjadi referensi bagi orang-orang Islam yang ada di seluruh dunia ini. akan tetapi apa kita alami saat ini, untuk mengakses karya-karya ulama kita sangat sulit. Maharaja Imam Muhammad Basiuni Imran sangat produktif dalam menulis dan menghasilkan karya, namun sangat disayangkan, kita orang Sambas justru tidak mengetahui karyanya. hanya sebagain kecil saja dari karya Basiuni Imran yang dapat kita temukan di Sambas.

Maka dari itu, MABM periode sekarang kita harapkan dapat mensuport kegiatan penelitian Dosen-dosen IAIS Sambas, sehingga karya-karya ulama kita dapat di akses secara luas oleh massyarakat kita. Penelusuran terhadap karya-karya tersebut perlu dilakukan walaupun harus ke luar negeri. Apabila ini terlaksana,  langkah strategisnya adalah, kita mendirikan Perpustakaan Melayu di Sambas, sehingga ketika orang akan meneliti Sambas, mereka mendatangi kita.

 

b1 Bedah IMG_2459 IMG_2461 IMG_2462 IMG_2463 IMG_2464 IMG_2465 IMG_2466 IMG_2467 IMG_2468 IMG_2469 IMG_2470 IMG_2471

878 total views, 1 views today

1 Comment

  • Firdaus June 30, 2016 at 6:45 am - Reply

    menyimak beberapa pendapat Narsumber ini perlu peningkatan budaya membaca dan perlu adanya gerakan khusus dari Cindekia khusus Civitas kamus di IAIS Sambas lebih memfokuskan tulisan Skripsi mahsiswa ke arah sejarah peradaban Sambas dan semua itu nanati bisa memjadi buku dan sambas harus punya wadah penerbit buku jangan sampai kita ketinggalan dan tak terbukukan. penerbit boleh dari luar Alangkah Efiseiennya jika Sambas punya penerbit sendiri berkerjasama dengan percetakan lokal di sambas dan di singkawang. apresiasi karya luar biasa anak lokal.

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>