Urgensi Seminar Ulama Melayu Nusantara bagi Fakultas Ushuluddin dan Peradaban

dekan-fakultas-ushuluddin-dan-peradaban-iais-sambas-dr-alkadri_20170505_145111

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Kawasan Asia Tenggara adalah pusat dari perkembangan peradaban Melayu, sebuah kebudayaan yang lahir dari dinamika kehidupan rumpun bangsa Melayu yang tersebar di berbagai wilayah daratan dan kepulauan sejumlah negara, Thailand, Filipina, Malaysia, Brunei, Singapura, dan Indonesia.

Khazanah kebudayaan Melayu yang tersebar di nusantara tersebut, memiliki ragam dan coraknya, baik yang berhubungan dengan seni, sastra, pemerintahan maupun intelektualnya. Dari sekian bidang tersebut, maka khazanah intelektual Melayu merupakan warisan yang sangat tinggi dan merupakan dasar dalam pengembangan khazanah-khazanah yang lain.

Intelektualitas dunia Melayu telah terbentuk sejak kedatangan orang-orang Melayu di seluruh Nusantara sejak zaman Melayu Tua (proto Melayu) sampai Melayu Muda (deutro Melayu) yang mencapai puncaknya mulai berdirinya kemaharajaan Malaka dan Aceh kemudian melahirkan intelektual Melayu seperti Nuruddin Arraniri, Bukhari Jauhari, Samsuddin Sumatrani dan sebagainya.

Tradisi keilmuaan yang berkembang di dunia Melayu didukung oleh jaringan intelektual yang kuat antara Nusantara (Jawi) dan Timur Tengah. Dalam penelitian Azyumardi Azra telah terjalin sejak abad ke-17.

Tradisi keilmuan dunia Melayu melalui jaringan yang telah lama dibangun tersebut, tidak mengalami penurunan, bahkan terus berkembang yakni yang semula hanya berpusat pada dua kota suci dunia Islam (Haramayn) Makkah dan Madinah, dalam awal abad ke-20 telah berkembang pula yaitu ke kota Mesir seiring dengan semangat modernisme yang berkiblat pada madrasah al-Azhar.

Perkembangan tersebut menjadi pemicu semakin suburnya beragam corak pemikiran dalam Islam disamping corak-corak yang telah ada.

Hubungan antara Mesir dan kepulauan Jawi (nusantara) dalam pembentukan jaringan ulama pada periode ini juga tidak dapat dipungkiri, salah satu tokohnya adalah Muhammad Basiuni Imran yang kemudian bergelar Maharaja Imam ketika kembali ke tanah air.

Kehadiran Basiuni Imran dalam panggung intelektual Islam memberikan dampak yang besar dalam perkembangan dunia Islam secara luas, terutama ketika ia melihat realitas yang terjadi dalam umat Islam terutama di tanah Jawi termasuk di pulau Jawa sedang mengalami kemunduran dalam berbagai aspek jika dibandingkan dengan orang-orang Eropa.

Kegelisahannya dalam melihat realitas umat Islam tersebut disuarakan dalam korespondensi dengan guru-gurunya sewaktu berada di Mesir yaitu kepada Shaykh Amir Sakib Arsalan kemudian jawaban terhadap pertanyaannya dijadikan buku yang berjudul Limâzâ ta’ ‘Akhkhara al-muslimûna, wa Lîmazâ Taqaddama Ghayruhum (mengapa kaum muslimin mundur, dan mengapa kaum selain mereka maju) dan populer hingga ke seantero dunia Islam yang pada umumnya tengah menghadapi kolonialisme Barat.

Popularitas Maharaja Imam Muhammad Basiui Imran melalui distribusi buku dan majalah (terutama al-Mana>>r) yang terbit di Mesir tersebut disamping karya-karya briliannya (diterbitkan di Singapura dan Penang Malaysia) menjadi menarik untuk dikaji dalam berbagai event ilmiah, upaya tersebut sebenarnya telah lama dilakukan, tercatat telah ada seminar yang mengupas pemikiran Basiuni Imran baik yang dilakukan di Indonesia maupun Malaysia.

Di Indonesia umpanya telah ada konferensi internasional yang dilaksanakan di Banjarmasin pada bulan Agustus 2016 yang lalu (International Conference On Social and Intellectual Transformation of the Contemporary Banjarese, 09-11 Agustus 2016, Banjarmasin) sementara kajian secara khusus tentang Maharaja Imam Muhammad Basiuni Imran di Sambas hingga saat ini masih belum terealisasi.

Melihat Intelektualitas Maharaja Imam Muhammad Basiuni Imran harus menempatkannya dalam ruang dunia Melayu bahkan dunia secara global, representasi dinamika pemikiran Islam sesungguhnya tampak dalam diri Maharaja Imam, gerakan reformisme yang melanda hampir seluruh Dunia Islam dalam awal abad ke-20 tersebut juga dimotori oleh pemikiran Maharaja Imam Muhammad Basiuni Imran.

Realitas inilah yang mendorong Fakultas Ushuluddin dan Peradaban IAIS Sambas mengadakan Seminar Ulama Melayu Nusantara yang dilaksanakan melalui BEM Fakultas. Tentu saja kegiatan ini dimaksudkan sebagai sarana dalam mengkaji khazanah ulama Melayu khususnya yang terdapat di Sambas.

Secara rinci tujuan kegiatan ini adalah sebagai berikut:
Melaksanakan visi misi Fakultas Ushuluddin dan Peradaban Institut Agama Islam Sultan Muhammad Syafiuddin Sambas. Yakni menjadi Kampus terdepan di wilayah perbatasan, sebagai pusat peradaban dan kajian Islam Nusantara.

Disamping itu urgensi seminar Ulama Melayu Nusantara ini adalah:
Pertama, sebagai upaya dalam menggali, memetakan, dan mendefenisikan kembali pemikiran modernisme Maharaja Imam Muhammad Basiuni Imran. Kedua, mendiskusikan pemikiran modernisme Maharaja Imam Muhammad Basiuni Imran dan pengaruhnya dalam dunia Islam. Ketiga memperlihatkan sumbangan intelektual Melayu Sambas dalam khazanah intelektual Melayu secara global.

http://pontianak.tribunnews.com/2017/05/05/fakultas-ushuluddin-dan-peradaban-iais-sambas-gelar-seminar

116 total views, 1 views today

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>