Lounching Hasil Penelitian Mahasiswa Fakultas Ushuluddin dan Peradaban

Bukber

Bukber

Ketua BEM Fakultas Ushuluddin dan Peradaban, Asmadi melalui koran Tribun Pontianak menyampaikan:

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SAMBAS -BEM Fakultas Ushuluddin dan Peradaban akan melaunching hasil penelitian sejarah kolonial Belanda di Sambas jelang berbuka puasa bersama di IAIS Sambas, Rabu (14/6/2017).

Kegiatan ini merupakan suatu pergerakan nyata untuk menggali khazanah sejarah lokal sambas, setelah melakukan study tour kemarin, Sabtu (3/6/2017).

BEM Fakultas Ushuludin dan Peradaban melakukan studi tour sekaligus melakukan penelitian terhadap situs sejarah kolonial yang terdapat di Bukit Penibungan, Tanjung Batu Pemangkat.

Asmadi, ketua BEM sekaligus koordinator kegiatan mengatakan bahwa kegiatan itu dilakukan selama dua hari dengan dua tempat, yaitu di Bukit Penibungan Pemangkat dan Bukit Kalang Bahu.

“Kegiatan yang dilakukan yaitu dengan membersihkan lokasi situs sejarah dan membuat film dokumenter. Kegiatan tersebut merupakan upaya penggalian sejarah dan penelusuran, apalagi situs di Bukit Penibungan merupakan situs yang memiliki cerita unik. Yaitu bagi masyarakat sambas umumnya bahwa situs tersebut lebih dikenal dengan makam obos,” katanya.

Asmadi menjelaskan bahwa, Obos dikenal sebagai orang yang memiliki ilmu sakti, yaitu tidak dapat dibunuh kecuali jika dimutilasi dan dipisahkan tubuh yang telah dimutilasi tadi pada tempat yang terpisah.

“Potongan tubuh obos berdasarkan kisah yang beredar dalam masyarakat dikuburkan pada tempat yang terpisah, ada yang berada di Bukit Selindung Sala Tiga, Bukit Penibungan Pemangkat dan sebagian di Daerah seberang yaitu di Kalang Bahu, ada juga yang menyebutkan di Pemangkat,” ceritanya.

Asmadi mengungkapkan, Cerita itu menjadi sangat populer di telinga masyarakat, apalagi konon beberapa orang pernah menjumpai mahluk yang menyerupai potongan-potongan tubuh manusia pada lokasi tersebut.

“Berdasarkan penelusuran yang dilakukan oleh Mahasiswa Fakultas Ushuludin dan Peradaban dalam historiografi kolonial menemukan fakta yang berbeda, baik tokoh maupun cerita yang berkembang,” ujarnya.

Karena, kata Asmadi, Bagi Kolonial, tempat itu dinamai Front Sorg atau Benteng Sorg, penamaan benteng itu berdasarkan nama seorang Letnan Kolonel Pemerintah Belanda yaitu Frederik Johanes Sorg. Ia ditugaskan oleh Belanda dalam rangka menumpas pemberontakan yang terjadi di Sambas yang berpusat di Pemangkat. Peristiwa itu terjadi dalam tahun 1850.

“Cerita yang kontraversi dimulai dari operasi yang dilakukan oleh Sorg, hanya dalam waktu seminggu Sorg berhasil melakukan pengintaian terhadap Para Pemberontak Cina yang berasal dari para penambang emas dari Mandor maupun daerah sekitar,” ujarnya.

Jumlah para pemberontak, lanjutnya, sebanyak 3.500 orang yang bersenjata Cantu dan Kelewang. Tepat pada tanggal 11 September 1850 baku tembak pun terjadi. Sepertinya dalam folklore masyarakat Sambas kisah itu dinamakam Perang Kenceng.

Dalam pertempuran tersebut, para Pemberontak Cina dapat dikalahkan, akan tetapi Letnan Kolonel F.J. Sorg tertembak disebelah kanan dibawah lutut, sehingga ia dilarikan ke Pontianak dan terpaksa diamputasi karena infeksi.

Setelah itu kondisi Sorg tidak membaik, tepat tanggal 25 Oktober 1850 (44 hari pasca pertempuran di Pemangkat) Sorg Meninggal dunia.

Asmadi mengajak, khusunya kepada para mahasiswa untuk hadir sore ini, untuk mengetahui bersama kisah tersebut.

“Perbedàn kisah yang bertambah maupun berkurang dalam dua versi tersebut sangat mungkin terjadi, untuk itu hadir dan saksikan kisah lengkapnya hari ini,”

110 total views, 1 views today

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>