Profile

Sejarah pendidikan di Kabupaten Sambas pada prinsipnya telah dimulai sejak masa Kerajaan Sambas. Nama sekolah yang sudah ada pada waktu itu adalah Sekolah Sulthaniyah. Sekolah tersebut langsung dikelola oleh seorang maharaja imam kerajaan Sambas yang bernama Muhammad Basuni Imran, yang lulusannya cukup dikenal dan sangat diperhitungkan kemampuannya di bidang agama Islam. Sedangkan pada masa kolonial, telah berdiri sekolah keguruan, seperti CVO yang masa belajarnya selama dua tahun dan lulusanya sudah dapat diangkat menjadi guru. Setelah kemerdekaan sekitar tahun 60-an, berdiri pula sekolah PGA dan SGB yang fokus pada bidang keguruan. Namun sayangnya, eksistensi PGA dan SGB tidak bertahan lama seiring perubahan yang terjadi pada peraturan menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada masa itu, dan akhirnya PGA serta SGB hanya disetarakan dengan MA saat ini.
Berdasarkan realitas sejarah pendidikan di atas, Sambas pada masa lalu cukup dikenal sebagai kota pendidikan, yang anak didiknya ternyata berasal dari berbagai daerah atau provinsi dengan tujuan untuk belajar agama Islam. Realitas itu ternyata cukup berpengaruh pada pengakuan masyarakat Islam sehingga Sambas sering disebut sebagai serambi Mekah. Penekanan Sambas sebagai serambinya Mekah tersebut lebih diarahkan pada sisi pendidikan, sebab masyarakat Muslim tidak hanya gencar untuk menuntut ilmu agama Islam di Mekah, tetapi Sambas juga dijadikan sebagai alternatif tujuannya.
Keinginan untuk mengembalikan kejayaan Sambas sebagai serambi Mekah di atas, ternyata masih tumbuh subur hingga saat ini. Berdasarkan gagasan dari beberapa tokoh masyarakat Sambas dan Departemen Agama Kabupaten Sambas dengan didukung penuh oleh Bupati Sambas, maka mereka sepakat dan berdirilah Sekolah Tinggi Agama Islam Sambas (STAIS) Sultan Muhammad Syafiuddin. Jurusan yang dibuka pada masa awal adalah Jurusan Dakwah Program Studi Bimbingan dan Penyuluhan Islam yang mulai melangsungkan perkuliahannya pada tahun 2002. Dalam proses untuk mendapatkan izin operasional, terjadi perubahan jurusan, program studi dan nama sekolah tinggi.
Pada tahun 2006, Sekolah Tinggi Agama Islam Sambas (STAIS) diubah namanya menjadi Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Sultan Muhammad Syafiuddin Sambas dengan izin operasional Departemen Agama RI melalui Dirjen Pendidikan Islam dengan Nomor: DJ.II/197/2006 tertanggal 22 Juni 2006. Jurusan yang mendapat izin operasional tersebut adalah Jurusan Tarbiyah Program Studi Pendidikan Agama Islam di bawah Yayasan Pendidikan Islam Syafiuddin (YAPIS). Untuk saat ini, izin operasional tersebut telah mendapat izin perpanjangan dari Dirjen Pendidikan Islam dengan Nomor: Dj.I/51/ 2008 yang berlaku selama lima (5) tahun.
Pada tahun 2010 ini, tepatnya pada tanggal 26 April 2010, STIT Sambas telah beralih status secara resmi berdasarkan SK Dirjen Pendis No. DJ.I/200/2010 dengan nama Sekolah Tinggi Agama Islam Sultan Muhammad Syafiuddin Sambas. Perubahan ini tentunya sangat positif dan akan memperluas wilayah kejuruannya. Rencananya jurusan yang akan menggandeng Jurusan Tarbiyah adalah Jurusan Syari’ah dan Jurusan Ushuluddin yang telah diusulkan dan divisitasi. Dengan demikian, berarti syiar keislaman akan semakin meluas dan diharapkan STAI Sambas mampu bersaing dengan perguruan tinggi lainnya sehingga sangat memungkinkan pada waktunya nanti Sambas akan kembali menjadi Serambi Mekah, insya Allah.

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *